Paperkaltim.id, Jakarta â PT Gudang Garam Tbk (GGRM), salah satu pemain besar di industri rokok kretek Indonesia, mengalami penurunan drastis pada kinerja keuangannya di tahun 2024. Kerugian tersebut berdampak besar pada kekayaan pribadi salah satu pemiliknya, Susilo Wonowidjojo, yang diketahui menyusut hingga Rpâ¯100 triliun dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.
Berdasarkan laporan keuangan akhir 2024, Gudang Garam hanya mampu mencatat laba bersih sebesar Rpâ¯981 miliar. Jumlah ini turun tajam sekitar 82% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rpâ¯5,32 triliun. Penyebab utama anjloknya laba adalah penurunan penjualan baik di pasar dalam negeri maupun ekspor, serta beban cukai rokok yang terus meningkat.
Data dari Forbes dan Detik Finance menunjukkan bahwa kekayaan Susilo turun dari US$â¯9,2 miliar pada 2018 menjadi US$â¯2,9 miliar pada 2024, atau dari sekitar Rpâ¯149 triliun menjadi Rpâ¯47 triliun. Dalam waktu tujuh tahun, kekayaannya terkikis lebih dari Rpâ¯100 triliun akibat kinerja bisnis yang menurun.
Faktor lain yang memperparah kondisi adalah maraknya rokok ilegal yang dijual di pasar dengan harga jauh lebih murah dari produk resmi. Rokok ilegal ini tidak hanya menyerupai kemasan rokok legal, tapi juga semakin menggerus pangsa pasar perusahaan-perusahaan besar yang harus membayar cukai tinggi.
Imbasnya terasa nyata di sektor hulu, termasuk petani tembakau. Gudang Garam terpaksa menghentikan pembelian tembakau dari sejumlah petani di Temanggung, Jawa Tengah, karena efisiensi biaya. Hal ini mengakibatkan tekanan ekonomi baru bagi petani lokal yang menggantungkan hidup pada industri ini.
Perusahaan menyatakan akan fokus pada efisiensi dan menekan biaya produksi, sembari meminta pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap peredaran rokok ilegal. Namun hingga kini, belum terlihat kebijakan konkret dari pemerintah pusat untuk merespons tantangan ini.
Sejumlah pengamat ekonomi menilai bahwa kebijakan cukai yang terlalu agresif memang efektif menekan produsen besar, tetapi belum efektif mengatasi pasar gelap yang merugikan negara dari sisi penerimaan pajak. Mereka menilai pendekatan kebijakan harus lebih seimbang.
Penurunan drastis pada kinerja Gudang Garam dan kekayaan Susilo menjadi sinyal kuat bahwa sektor rokok legal menghadapi tantangan serius. Tanpa reformasi pengawasan dan kebijakan fiskal yang lebih adil, industri ini bisa terus mengalami tekanan dan kehilangan daya saing di pasar.