Paperkaltim.id, Jakarta â Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir milik Iran pada 21â22 Juni 2025. Langkah ini memicu kekhawatiran global akan potensi pecahnya konflik besar yang bisa menyeret dunia menuju perang dunia ketiga.
Serangan presisi tersebut menyasar lokasi strategis di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Presiden Donald Trump menyebut operasi ini berhasil sepenuhnya, namun sejumlah analis menilai tindakan ini berisiko mempercepat reaksi balasan dari Iran. Skema respons Iran bisa mencakup serangan siber, teror, atau melibatkan kelompok non-negara di kawasan.
Rusia mengecam keras serangan itu. Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menyebut aksi AS sebagai "membuka kotak Pandora", yang berpotensi menggoyahkan tatanan hukum internasional dan membawa dunia ke arah kekacauan. Presiden Vladimir Putin bahkan menyatakan bahwa kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan dan menempatkan dunia di ambang kehancuran global.
Konflik semakin meluas saat Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada 23 Juni. Meski berhasil dicegat, serangan ini menandai eskalasi yang secara langsung menyasar pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Di dalam negeri AS, aksi militer ini memicu respons terbelah. Mayoritas Partai Republik mendukung, namun sejumlah anggota Demokrat mengecam langkah Trump karena dilakukan tanpa izin dari Kongres. Mereka menilai tindakan ini melanggar prosedur konstitusional.
Reaksi keras juga muncul dari Eropa. Inggris dan Jerman memperingatkan dampak lanjutan yang bisa mengganggu stabilitas global. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menggelar rapat darurat "Cobra" guna meredakan ketegangan, sementara PBB dan negara-negara G7 menyerukan dialog segera.
Meski ketegangan tinggi, sebagian pengamat menilai keberadaan senjata nuklir justru menjadi penghalang eskalasi lebih jauh karena ancaman kehancuran bersama (mutual assured destruction). Di sisi lain, keterikatan ekonomi antarnegara disebut sebagai faktor yang meredam niat perang terbuka.
Saat ini, situasi masih sangat cair. Masa depan konflik bergantung pada kehati-hatian langkah selanjutnya dari AS, Iran, Rusia, dan kekuatan besar lainnya dalam mengelola krisis global ini.