Paperkaltim.id, Tokyo â Seorang kreator konten Indonesia di Jepang, Dian yang dikenal dengan nama âNeoâ¯Japanâ, mengungkap telah dihubungi langsung oleh pejabat Kementerian Kehakiman Jepang. Pejabat tersebut menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya kasus WNI yang melanggar aturan sejak Mei 2025, mulai dari pencurian di toko, kegaduhan larut malam, hingga vandalisme fasilitas publik.
Dalam video Reels berdurasi tiga menitâditonton lebih dari 3,4â¯juta kaliâDian menyatakan malu sekaligus geram. Ia bahkan bersumpah akan membantu pihak imigrasi Jepang âmendeportasiâ pelaku yang merusak nama baik Indonesia. âTolong belajar tata krama,â serunya lantang kepada warganet.
Unggahan itu memicu perdebatan sengit. Tagar #JagaNamaBaikRI menembus 40â¯ribu cuitan dalam 12â¯jam. Ada yang mendukung langkah keras Dian demi menjaga reputasi bangsa, namun tak sedikit yang menilai ancaman deportasi bukan wewenang influencer.
Kasus negatif WNI memang marak. Tahun lalu, video âgeng TKIâ di Osaka berkonvoi sambil membawa senjata tajam viral dan berujung penangkapan empat WNI. Teranyar, dua turis Indonesia ditindak di Hokkaido karena menempel stiker di gerbong Shinkansen.
KBRI Tokyo segera merilis imbauan agar WNI mematuhi hukum Jepang dan tidak membawa âkebiasaan burukâ dari tanah air. Kedutaan juga bekerja sama dengan kepolisian setempat untuk edukasi diaspora mengenai denda tinggi hingga deportasi bagi pelanggar.
Pengamat hubungan internasional UI, Arifiantoâ¯Purba, menilai langkah pejabat Jepang menghubungi influencer menunjukkan pentingnya media sosial sebagai jalur diplomasi publik. âMereka tahu diaspora lebih cepat merespons figur yang mereka ikuti,â ujar Arifianto.
Data Japan National Tourism Organization menyebut 580â¯ribu wisatawan Indonesia mengunjungi Jepang sepanjang 2024, sementara pekerja dan pelajar RI di sana menembus 173â¯ribu orang. Bertambahnya populasi diaspora otomatis meningkatkan potensi gesekan budaya.
Dian menutup videonya dengan janji rutin membuat konten etika publik dwibahasa. Kementerian Luar Negeri RI menyatakan siap menggandeng diaspora untuk kampanye kesadaran budaya, demi mencegah insiden serupa ke depan.